Tulisan Terbaru

Translate

Hosting Refferal

Minggu, 21 Desember 2008

Apa Beda "Membaca" dan "Mengaji"

Tulisan ini sepenuhnya copy paste dari situs suamigila.com, ketertarikanku menyimak arti dari sebuah kata "mengaji" dan "membaca" dalam pemahaman disini lebih kepada pembahasaan yg lugas and gampang dicerna....lo pasti penasaran kan...??? simak aja ceritanya di bawah ini Dulu dan Sekarang Di tahun 800 dan 1100, propinsi Andalusia di Spanyol selatan dan Kerajaan Islam di Iraq sangat gemar melakukan discovery dalam science. Di saat itu kedua peradaban ini memberi kontribusi langsung terhadap kemajuan pengetahuan dunia. Sumber dari penemuan-penemuan mereka ada dua: 1. Mereka merevitalisasi science yang dikembangkan orang yunani kuno, yang tidak dipedulikan bangsa eropa di waktu itu. Mereka memplajari kembali pitagoras, hukum archimedes etc. 2. Mereka, para santri ini gemar mengaji untuk menemukan pengetahan-pengetahuan yang Allah siratkan di dalamnya. Biologi, Allah dalam Al-Alaq menyiratkan proses penciptaan manusia secara biologis. Di sana juga Allah menyiratkan bahwa sesuatu yang organik akan kembali menjadi tanah. Biologi, Allah menyiratkan lanjutan dari evolusi manusia dalam Al-Ankabuut. Di sana dia bercerita bahwa pada awalnya, manusia berumur ribuan tahun. Nabi Nuh berumur 950 tahun. Advanced Physiscs, Allah dalam Al-Kahfi mengajarkan teori relativitas. Advanced Physiscs, Al-Ma'aruu menyiratkan dasar-dasar dari kecepatan cahaya. Ini dipecahkan oleh seorang profesor di Mesir beberapa tahun yang lalu kalo gak salah. Kemudian karena perang, kedua peradaban ini pudar. Sekarang Indonesia adalah peradaban islam terbesar di dunia dengan populasi 220 juta orang. Hanya saja bukan peradaban islam yang islami. Yang mengganggu pikiran gua adalah, dulu di Andalusia dan Ira hanya ada ratusan ribu orang namun mereka bisa maju sekali. Kita bangsa 220 juta orang gak bisa maju. Kenapa? Padahal meski kita terpisah 1000 tahun, pedoman kita sama. Al-Qur'an. Apakah ini artinya kita, bangsa islam sekarang, tidak menggunakan sebagaimana mestinya? Jawabannya ya. Pengertian dari Mengaji Arti Dari Niatnya Growing up, yang kita dengar adalah "Udah maghrib, sana ngaji biar dapet pahala" "Setiap ayat yang dibaca berpahala 1. Jika berwudhu, berlipat puluhan. Jika di bulan puasa, berlipat ratusan" Dapet pahala memang baik tapi gua selalu merasa aneh, kenapa kok ya rasanya kita dididik jadi umat untuk jadi pamrih? Ngaji biar dapet pahala? Gua pengen ngaji karena gua pengen tahu Allah bilang apa. Dapet pahala bagus, tapi jangan sampe kita ibadah untuk dapet pahala. Beribadalah agar kita mendapat ridho Allah. Gak usah pamrih bener sama pahala. Beribadahlah agar kita bisa jadi umat yang maju dan setelah maju, membantu mereka yang tertinggal. Tapi ini nggak, kita baca Qur'an agar kita dapet pahala. Kita secara tidak sadar telah mereduce diri kita untuk jalan di tempat. Mengajilah agar kita tahu apa pesan yang Alah ingin sampaikan. After all, kita bukan orang arab. Bacalah artinya. Arti Dari Bahasanya Mengaji berasal dari kata dasar Kaji. Artinya, menganalisis (bukan duburisis) secara menyuluruh dari segala aspek. Tapi apa yang kita lakukan sekarang? Kita hanya membaca Qur'an. Bukan meng-kaji Qur'an. Gua bisa bilang gini karena 99% umat islam non-arab yang gak bisa bahasa arab, hanya baca Qur'an tanpa baca artinya. Abis amin, udah selesai. Ada rasa lega di dalam hati. Bagus. Ada rasa dekat dengan Allah. Bagus. Ada pahala yang didapat. Bagus. Tapi seharusnya kita bisa dapat lebih dari itu jika berusaha lebih. Baca lah artinya dan kita aka tahu apa yang Allah firmankan pada kita. Bacalah artinya dan kita akan menemukan banyak ilmu di dalamnya. Contoh betapa memalukannya umat islam karena kita hanya baca Qur'an dan tidak memng-kaji Qur'an. Poligami kita umat Islam tahu Allah membolehkan poligami tapi tidak mengerti kenapa dibolehkan. Allah menurunkan ayat untuk berploigami hanya setelah perang badar di tahun 600 AD. Saat itu banyak janda perang yang tidak terurus dan saat itu hukum budaya Arab adalah ketika suami meninggal, hartanya pergi ke keluara suami dan sang janda beranak 4 itu tidak dapat apa-apa. Nabi sendiri selalu monogamis dengan istri pertamanya sampai dia meninggal. Nabi hanya berpoligami setelah ayat itu turun dan memberi contoh pada umatnya untuk mengambil janda perang. Dia juga menggunakan poligami untuk tujuan politik saja. Dengan mengawini anak-anak kepala suku, situasi jadi stabil karena semua kepala suku tidak akan berani berperang melawannya. Ini memberikan dia waktu untuk mengajarkan ajarannya. Kemudian ada pertanyaan, "Kalo kasian sama janda perang, kenapa gak disantuni aja, kenapa boleh dinikahi? Karena setiap manusia memiliki harga diri. Kita gak mungkin mengasihani janda seumur hidup. Janda juga manusia yang memiliki hak mencintai dan dicintai. Hak untuk merasa dan menjalani hidup. Ini susah dilakukan di tempat perang di mana banyak pria meninggal dan demografi gak seimbang, Thus, boleh poligami. Bayangkan kalau kita jadi janda di Iraq. Laki-laki gak ada udah abis. Mungkin mereka bisa single parent tapi tetep aja hampa gak ada cinta. Gua sendiri gak setuju dengan poligami di Indonesia. Kita gak perang, gak kurang laki, thus, gak perlu poligami. Kalo Aa Gym dan pelaku poligami lainnya di Indonesia, memang benar mau poligami demi ibadah, mestinya mereka dan istrinya pergi ke Afganishtan, cari janda perang dan nikahi janda itu. Itu lah berpoligami yang benar. Semua ini ada di Qur'an tapi kita gak tahu. Kenapa? Karena kita gak bisa baca arab kuno. Kita hanya baca Qur'an tanpa meng-kaji artinya. Di saat kita gak kaji, pesan terhambat. Bagaimana kita bisa meng-kaji sesuatu kalau artinya gak kita baca? Bagaimana kita bisa mengerti apa yang Allah berusaha pesankan pada kita kalau kita gak ngerti bahasa arab dan gak beusaha membaca artinya? Umur gua 29 tahun dan baru di tahun 2007 lah gua berikrar, gua gak mau baca Qur'an kalau gak baca artinya. Membaca Quran bagus, granted. Dapet pahala, granted. Tapi kalo gak baca artinya tetep aja pesan Allah terhambat di translasi yang gua gak baca. Arti Dari Konsepnya Santri jaman sekarang sepertinya gak kalah dengan santri jaman sekarang. Sama-sama hafal Quran. Lantas kenapa santri Andalusia jaman dulu bisa memecahkan trogonomteri untuk mengonstruk bangunan sedang santri indonesia jaman sekarang belum tentu tau apa arti trigonomteri. Sedangkan mahasiswa ITB yang hafal trigonometri belum tentu hafal Quran. Kenapa? Ini karena jaman dulu, Al-Quran memiliki 2 fungsi: - Rujukan agama - Rujukan pengetahuan Kita jaman sekarang telah dengan bodohnya berhasil memisahkan keduanya. Mau tau agama? Ada ratusa ribun bedah Qur'an di mesjid se Indonesia. Mau belajar advance physics- sekarang gua tanya, waktu mau ujian trogonometri dulu, pada buka Qur'an? See? Salah kita sendiri gua rasa yang menempatkan Qur'a sebagai tool agama dan bukan tool untuk science. Science dalam Al-quran ada 2 macam: 1. Tersurat. Ini artinya Allah bener-bener jelasin. 2. Tersirat. Allah menyiatkan saja dan menuntut umatnya membedah lebih lanjut. Contoh: babi haram. Semua tahu, di Qur'an ada. Tapi kalo orang lain tanya kenapa haram, kita bengong. kemudian orangitu akan tanya: kenapa kita menjalani sesuatu yang kita sendiri gak tau kenapa. Bikin malu umat sendiri. Seorang profesor di Egypt sudah memecahkan ini. Babi adalah satu-satunya mamalia yang memiliki ginjal tidak sempurna. Darah kotor mamalia berisi urea yang beracun. Urea ini oleh ginjal mamalia disaring 98%. ZDalam tubuh babi however, regrettably kebalikannya. Ginjal babi hanya menyaring 2% urea. Artinya 98% urea dalam darah tetap dalam darah dan terseap ke dagingnya. Bukankah darah kotor bisa dikeluarkan melalui penyembelihan di leher? Ya, tapi sayangnya lagi, babi adalah satu-satunya mamalia yang tidak memiliki leher. Yah itu sedikit uneg-uneg gua akan kehidupan sosial dan spiritual kita. Tidak adanya kesadaran dari kita untuk membaca arti dri pesan-pesan Allah telah mereduce kita sendiri menjadi umat yang mengikuti larangan tanpa tau kenapa. Kaji lah Qur'an. Baca lah artinya.

0 komentar:

Poskan Komentar